Menyentuh Tanah, Mengenal Sejarah: Siswa XII.F4 SMAN 2 Tanjungpandan Eksplorasi Seni Keramik di BICA Ceramic
TANJUNGPANDAN - SMA Negeri 2 Tanjungpandan. Kekayaan alam Belitung tidak hanya tersimpan di dalam perut bumi, namun juga mampu bertransformasi menjadi karya seni bernilai tinggi. Hal inilah yang dibuktikan oleh 31 siswa kelas XII.F4 SMAN 2 Tanjungpandan saat melakukan kunjungan observasi ke Komunitas BICA Ceramic, Desa Batu Itam, pada Rabu (04/02/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda Ujian Praktek Sekolah mata pelajaran Seni Budaya, di bawah bimbingan Ibu Wulan Febriyanti, S.Sn. Fokus utamanya adalah pendalaman materi Apresiasi Seni dan Analisis Karya Seni Rupa.
Edukasi Material dan Jejak Sejarah Tambang
Rombongan siswa disambut hangat oleh Ketua Komunitas BICA Ceramic, Bapak Darlan, beserta tim. Di galeri yang berlokasi di Jl. Tj. Kelayang Km. 08 ini, siswa tidak hanya belajar seni, tetapi juga sains dan sejarah. Bapak Darlan memberikan edukasi mendalam mengenai bahan baku utama pembuatan keramik khas Belitung, yaitu: Kaolin, Tanah Liat & Pasir Kuarsa. Selain material, siswa juga diberikan pemahaman tentang keterkaitan antara kerajinan keramik dengan sejarah panjang pertambangan di Pulau Belitung, memberikan dimensi filosofis yang lebih kuat pada setiap karya yang dihasilkan.
Mengasah Keterampilan: Dari Teknik Hingga Melukis Media
Para siswa diberikan kesempatan langka untuk melihat dan mencoba berbagai teknik pembuatan keramik, di antaranya: Teknik Cetak: Efisiensi dalam pembuatan bentuk yang presisi. Teknik Putar: Seni membentuk tanah liat di atas meja putar yang dinamis. Teknik Pilin (Coiling): Teknik manual untuk menciptakan bentuk-bentuk unik. Antusiasme memuncak saat para siswa mencoba langsung pengalaman melukis di atas media keramik. Aktivitas ini menjadi sarana bagi siswa untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus mempraktikkan analisis estetika secara real-time. Harapan dari Kunjungan melalui kegiatan ini, Ibu Wulan Febriyanti, S.Sn. berharap para siswa mampu memahami secara langsung proses kreatif, nilai estetika, serta filosofi yang terkandung dalam produk kerajinan khas daerah. Dengan terjun langsung ke lapangan, diharapkan tumbuh rasa apresiasi yang lebih tinggi terhadap potensi kearifan lokal Belitung.(Adm)