Integrasi TIK Dalam Pembelajaran

 

Sebagaimana kita pahami bersama,percepatan teknologi digital melesat begitu cepat, tidak terbendung apapun, RevolusiIndustri 4.0 dan Society 5.0 berdampak besar bagi kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Era Education 4.0 menggambarkan betapa perkembangan teknologi digital telah sampai pada tahapan integrasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence),berpengaruh besar ke dalam berbagai perangkat dan aplikasi digital dalam sistempendidikan dan mekanisme pembelajaran. Perubahan dinamika masyarakat Society5.0 pun turut andil dalam transformasi pendidikan, secara formal, non-formal, daninformal, dimana aksesibilitas terhadap segala macam informasi dapat dilakukan dengan mudah dan terbuka melalui berbagai layanan berbasis data di internet. Jika pada era Education 4.0 aspek penekanannya lebih pada faktor teknologinya sebagai objek, di era society 5.0 aspek yang lebih ditekankan adalah pada faktor manusia-nya sebagai pusat (human-centered) atau subjek yang mampu dengan bijak dan kritis menyikapi dan berbagai macam perkembangan teknologi tanpa meninggalkan aspek-aspek humanisme-nya. Pengembangan dan pendayagunaan TIK untuk pendidikan dan kebudayaan terus dikembangkan dalam bentuk layanan pembelajaran bagi guru dan siswa, antara Iain portal pembelajaran Rumah Belajar (https://belajar.kemdikbud.go.id), Guru Berbagi(https://gurubelajardanberbagi.kemdikbud.go.id), dan Platform Merdeka Mengajar (PMM) (https://guru.kemdikbud.go.id). Berbagai sumber belajar digital terbuka (OER-open educational resources) pada layanan pembelajaran tersebut terintegrasi dalam satu akun pembelajaran belajar.id yang dapat diakses terbuka dan gratis oleh pendidik dan peserta didik pada setiap jenjang pendidikan.

Integrasi TIK atau digitalisasi dalam proses pembelajaran sudah di depan mata. Studi-studi menunjukkan integrasi TIK dalam pembelajaran mendorong akses pada sumber belajar berkualitas. Selain itu, jika dimanfaatkan dengan tepat, integrasi TIK dapat (1)memacu kreativitas peserta didik, (2) membangun keterampilan TIK (literasi digital),dan (3) meningkatkan interaksi pada proses pembelajaran sehingga meningkatkan kemampuan siswa secara signifikan. Kemampuan guru mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran diperlukan untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa, mengembangkan keterampilan dalam bidang TIK , meningkatkan efektivitas, efisiensi dan kemenarikan proses pembelajaran serta meningkatkan kemampuan siswa menyelesaikan soal soal dengan penalaran yang lebih baik. Guru dituntut memiliki kompetensi memanfaatkan TIK yang memadai yang diaktualisasikan terutama untuk kepentingan pembelajaran (kompetensi pedagogik) dan untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri (kompetensi profesional). implementasi pemanfaatan TIK dengan bekal kemampuan:

1. Memahami konsep pemanfaatan TIK secara optimal dalam pembelajaran.
2. Memahami fungsi-fungsi sumber belajar digital terbuka berbasis TIK.
3. Menyusun rancangan pembelajaran terintegrasi TIK.
4. Memahami karakteristik dan potensi TIK dalam membelajarkan dan menciptakan lingkungan belajar.
5. Menerapkan model pembelajaran berbantuan TIK.
6. Memanfaatkan TIK dalam pengelolaan pembelajaran (data, penilaian, dan lain-lain).
7. Memanfaatkan TIK untuk berkolaborasi dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar.
8. Memanfaatkan media sosial untuk pembelajaran, dan
9. Memanfaatkan video pembelajaran berbasis TIK.

Mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran sama maknanya dengan menggunakan TIK untuk belajar (using ICTs to learn). Tujuan pengintegrasian TIK dalam pembelajaran adalah membangun keterampilan melek TIK, membangun keterampilan berpikir kritis, bekerja sama secara kolaboratif, memecahkan masalah, dan berkomunikasi secara efektif. TIK hanya sekedar alat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Artinya, kalau tidak ada teknologi yang lebih tinggi, maka gunakanlah teknologi yang ada sesuai dengan karakteristik kelas. Pembelajaran yang mengintegrasikan TIK adalah pembelajaran yang aktivitas pembelajarannya melibatkan pendayagunaan TIK untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

Penekanan utama mengintegrasikan TIK sebenarnya adalah bukan pada kecanggihan teknologi yang digunakan, tetapi pada strategi pembelajaran yang mendukung keterampilan-keterampilan abad 21 melalui pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik (student-centered learning activities). Ada beberapa metode yang disarankan untuk membangun keterampilan masyarakat abad 21 dengan memanfaatkan TIK sebagai pendukungnya. Beberapa metode tersebut adalah (1) Resources-based learning yaitu model pembelajaran dimana siswa tidak hanya belajar pada satu sumber tetapi terdapat berbagai macam sumber belajar yang dapat mendukung proses pembelajaran sehingga siswa dapat membangun pemahaman konsep dari berbagai sumber.; (2) Case/problem-based learning yaitu pendekatan pembelajaran konstruktivisme dimana masalah-masalah yang dihadirkan dalam pembelajaran berbasis kasus; (3) Simulation-based learning yaitu metode dimana siswa dilibatkan secara langsung memerankan dan memperagakan suatu fungsi atau system dalam materi pembelajaran; (4) Colaborative-based learning yaitu proses dimana peserta didik pada berbagai tingkat kemampuan (kinerja) bekerja sama dalam kelompok kecil menuju tujuan bersama.

Pengetahuan dan pemahaman terkait perangkat TIK menjadi bekal untuk dapat menentukan ketepatan penggunaannya dalam pembelajaran yang kelola. Artinya, hal sia-sia atau kemubaziran dalam penggunaan TIK dapat diminimalisir. Gaung pemanfaatan TIK untuk pembelajaran tidak lantas menjadikan untuk mewarnai semua proses pembelajaran dengan TIK. Kebijakan dan ketepatan dalam memilih dan memilah perangkat TIK yang sesuai untuk materi tertentu menjadi kunci efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran.

Pengintergrasian TIK dalam pembelajaran dapat di terapkan dalam pembelajaran daring(online) maupun during (offline) serts mengenal blended learning dan hybrid learning Learning Management System (LMS) dan contoh-contoh LMS (Kelas Maya, Google Classroom dan Edmodo).

Namun, ada kelemahan lingkungan belajar secara daring, yaitu keberhasilan pembelajaran tidak dapat dicapai jika fasilitas seperti kuota internet dan juga perangkat untuk mengaksesnya seperti smartphone, tablet, laptop, atau computer tidak tersedia.Lingkungan belajar secara luring diartikan bahwa lingkungan belajar dengan media yang mana tidak menggunakan jaringan internet.

1. Sistem pembelajaran luring
Sistem pembelajaran luring artinya pembelajaran dengan memakai media, seperti televis dan radio. Diperlukan sarana dan prasarana yang baik untuk kenyamanan belajar pada sistem luring. Misalnya dalam pembelajaran IPA, diperlukan laboratorium lengkap dengan alat dan bahan yang dapat menunjang kegiatan praktikum secara langsung.

2. Model pembelajaran blended learning
Blended learning berasal dari kata blended dan learning. Blend artinya campuran dan learning artinya belajar. Blended learning menggabungkan pembelajaran tatap muka (face to face) di kelas dan pembelajaran daring (online) untuk meningkatkan pembelajaran mandiri secara aktif oleh siswa dan mengurangi jumlah waktu tatap muka (face to face) di kelas. Dengan pelaksanaan blended learning ini,pembelajaran berlangsung lebih bermakna karena keragaman sumber belajar yang mungkin diperoleh. Model pembelajaran Blended Learning memiliki dari tiga komponen penting yaitu 1) online learning, 2) pembelajaran tatap muka, dan 3) belajar mandiri.

3. Model pembelajaran hybrid learning
Model pembelajaran hybrid learning sebagai salah satu alternatif model pembelajaran kekinian yang menggabungkan pembelajaran tatap muka di sekolah serta pembelajaran jarak jauh. Desain pembelajaran hybrid ini, memungkinkan perpaduan antara kelas-kelas pembelajaran tatap muka tradisional atau dikenal dengan pembelajaran luring (luar jaringan/offline) dengan pembelajaran online berbasis web dan/atau pembelajaran yang dimediasi komputer atau smartphone (daring/online).

4. LMS atau yang lebih dikenal dengan Learning Management System adalah suatu perangkat lunak atau software untuk keperluan administrasi, dokumentasi, laporan sebuah kegiatan, kegiatan belajar mengajar, dan kegiatan secara online (terhubung ke internet), e-learning dan materi-materi pelatihan dan semua itu dilakukan dengan online (Ellis dalam Anggariawan, 2019). LMS digunakan untuk membuat materi pembelajaran online berbasiskan web dan mengelola kegiatan pembelajaran serta hasil-hasilnya. LMS ini sering disebut juga dengan platform e-learning atau learning content management system (LCMS). LMS ini sering disebut juga dengan platform e-learning atau learning content management system (LCMS). Intinya LMS adalah aplikasi yang mengotomasi dan memvirtualisasi proses belajar mengajar secara elektronik. Berikut ada beberapa contoh LMS di antaranya: Moodle, Schoology, Dokeos, ATutor, Google Classroom, Edmodo, dan Kelas Maya pada Portal Rumah Belajar.

Penulis Misniyanti, S.Pd Guru SMA Negeri 2 Tanjungpandan
Artikel Ini telah terbit di www.belitongbetuahnews.com Edisi 109 Tahun IV (8 Oktober – 18 Oktober 2022)