Hari Puisi Sedunia, Yuk Cari Tahu Sejarah Puisi!
Setiap tanggal 21 Maret dunia memperingati hari puisi. Puisi, yang berasal dari bahasa Yunani, poiesis (“membuat”) sendiri pada dasarnya merupakan salah satu bentuk karya sastra yang mengedepankan keindahan. Bukan saja dalam hal irama dan rima, tetapi juga penyusunan larik dan bait. Untuk memperingati hari penting dalam perjalanan puisi, yuk kita cari tahu sejarah dari puisi itu sendiri.
Penyampaian puisi juga dilakukan dengan bahasa yang memiliki makna mendalam dan menarik, dengan isi didalamnya tak jarang merupakan catatan dan perwakilan dari pengalaman penting yang dialami oleh manusia.
Sejarah Puisi dan Perkembangannya
Sejarah puisi bermula di Afrika, setidaknya pada zaman prasejarah, ketika puisi tentang berburu muncul. Setelah itu diikuti puisi istana panegyric dan elegiac kekaisaran lembah Sungai Nil, Niger, dan Volta.
Beberapa puisi paling awal di Afrika ditemukan diantara Teks Piramida yang ditulis pada abad ke-25 SM, dengan Epik Sundiata menjadi salah satu contoh puisi penyair istana yang paling terkenal.
Puisi epik tertua yang masih hidup, Epic Gilgames, berasal dari milenium ke-3 SM di Sumeria (di Mesopotamia, Irak saat ini), dan ditulis dalam aksara paku pada lempengan tanah liat. Epos kuno lainnya termasuk Iliad dan Odyssey dari Yunani; buku-buku Persia Avestan (Yasna); epik nasional Romawi, Virgil’s Aeneid (ditulis antara 29 dan 19 SM); dan epos India, Ramayana dan Mahabharata.
Di benua Eurasia, puisi-puisi awal berkembang dari lagu-lagu rakyat seperti Shijing Cina, serta himne keagamaan; atau dari kebutuhan untuk menceritakan kembali epos lisan, seperti Kisah Mesir Sinuhe, puisi epik India, dan epos Homer.
Sementara itu, Yunani Kuno berupaya untuk mendefinisikan puisi, seperti Puisi Aristoteles, dengan berfokus pada penggunaan pidato dalam retorika, drama, lagu, dan komedi. Sebelum akhirnya terkonsentrasi pada fitur-fitur seperti pengulangan, bentuk syair, dan rima, serta menekankan pada estetika.
Secara umum, perkembangan puisi modern dimulai pada awal abad ke-20 dan meluas hingga abad ke-21. Pada periode ini, penggunaan syair untuk menyampaikan informasi budaya dimulai dan terus berlanjut hingga saat ini.
Puisi di Indonesia
Di Indonesia, perkembangan puisi dimulai dari angkatan Balai Pustaka hingga saat ini, dimana itu dapat dilihat baik dari sisi bentuk, isi dan temanya, teknik penciptaan serta penyajian tema-tema yang dimunculkan di setiap periode.
Pada angkatan Balai Pustaka, misalnya, puisi kala itu masih berupa mantra, pantun, dan syair, dimana kesemuanya disebut sebagai puisi terikat. Pengaruh puisi lama pun masih kental disini. Lain hal dengan Angkatan Pujangga Baru (1933 – 1945), dimana puisi yang diciptakan telah benar-benar baru.
Angkatan 45 (1945-1953) lain lagi. Jika pada periode sebelumnya pembaharuan dilakukan terhadap bentuk puisi, pada periode ini perubahan dilakukan secara menyeluruh. Bentuk puisi soneta, tersina, dan sebagainya tidak dipergunakan lagi. Puisi juga memiliki struktur bebas, kebanyakan beraliran ekspresionisme dan realisme.
Pada masa kini puisi yang muncul memiliki bentuk dan gaya yang tidak mengikuti kaidah puisi pada umumnya, dan memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan puisi lainnya. Dalam puisi kontemporer, salah satu yang penting adalah adanya eksplorasi sejumlah kemungkinan baru, antara lain penjungkirbalikan kata-kata baru dan penciptaan idiom-idiom baru.
Sumber : https://www.kelaspintar.id/blog/inspirasi/hari-puisi-sedunia-yuk-cari-tahu-sejarah-puisi-15493/