17 Agustus Sebagai Hari Kemerdekaan RI, Ini Sejarahnya!

 

Tanggal 17 Agustus setiap tahunnya diperingati sebagai hari kemerdekaan Republik Indonesia. Pada momen ini, rakyat Indonesia dibawa untuk mengingat kembali jasa-jasa para pahlawan dan memaknai peristiwa paling penting dalam sejarah bangsa. Mulai dari seperti apa prosesnya, siapa saja tokoh yang terlibat didalamnya, hingga kenapa 17 Agustus dipilih sebagai hari bersejarah itu.

Ya, ditetapkannya tanggal 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan RI sendiri sebenarnya tidak direncanakan sebelumnya. Namun, bukan hari kemerdekaan kita bukannya tanpa persiapan. Ini bermula ketika Hiroshima dibombardir oleh Amerika Serikat, tepatnya pada 6 Agustus 1945. Peristiwa ini membuat moral dan semangat tentara Jepang di seluruh dunia turun. Dan Jepang pun akhirnya menyerah kepada Amerika Serikat dan seutunya, setelah bom atom kedua dijatuhkan di ota Nagasaki.

Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, para pendidi bangsa (Indonesia) pun berinisiatif untuk memproklamasikan kemerdekaan.

Meski begitu, semua ini tentu saja tidak bisa dilakukan dengan gegabah. Terhitung sejak 10 Agustus, tepatnya ketika Indonesia pertama kali mendengar tentang kekalahan Jepang, para pejuang bawah tanah bersiap-siap memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, dan menolak bentuk kemerdekaan yang diberikan sebagai hadiah Jepang. Kala itu, Marsekal Terauchi sebagai pimpinan tertinggi Jepang di Asia Tenggara menginginkan proklamasi diadakan pada 24 Agustus 1945.

Sekali lagi, tak menginginkan kemerdekaan sebagai bentuk hadiah, para pejuang yang diwakili Sutan Syahrir lantas mendesak agar Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan. Mereka menganggap hasil pertemuan Soekarno-Hatta dengan Terauchi, yang menjanjikan kemerdekaan kepada Indonesia hanyalah tipu muslihat semata. Demi menghindari perpecahan dalam kubu nasionalis, antara yang anti dan pro Jepang.

Meski begitu, alih-alih mengikuti desakan Syahrir untuk segera memproklamasikan kemerdekaan, Soekarno memilih lebih tenang dan tidak terburu-buru. Dia sendiri sebenarnya belum yakin bahwa Jepang memang telah menyerah, dan menganggap proklamasi kemerdekaan saat itu hanya akan menimbulkan pertumpahan darah yang besar, dan dapat berakibat fatal jika para pejuang Indonesia belum siap.

Baru pada 14 Agustus 1945, saat Jepang menyerah secara resmi dari sekutu, rapat PPKI digelar. Namun, golongan muda yang menilai PPKI merupakan badan bentukan Jepang, menolak rapat digelar. Pendirian mereka kala itu kadung bulat, ingin merdeka atas usaha bangsa sendiri, dan bukan ‘dihadiahi’.

‘Penculikan’ Soekarno dan Hatta

Setelah berkali-kali gagal mendapatkan konfirmasi dari pihak Jepang terkait rencana kemerdekaan, Soekarno dan Hatta segera mempersiapkan pertemuan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Pertemuan inipun direncanakan terselenggara pada pukul 10 pagi tanggal 16 Agustus, dengan agenda membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan persiapan Proklamasi Kemerdekaan.

Namun, di hari yang ditentukan baik Soekarno dan Hatta tidak muncul. Keduanya ‘diculik’ pada dini hari tanggal 16 Agustus 1945, oleh para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, Sukarni, dan Shodanco Singgih, salah seorang anggota PETA, ke Rengasdengklok. Kejadian ini lalu dikenal sebagai peristiwa Rengasdengklok.

Tapi tentu saja, ‘penculikan’ Soekarno dan Hatta ini bukan dengan niat buruk. Para pemuda pejuang ini hanya tidak ingin Soekarno dan Hatta terpengaruh oleh Jepang. Lewat aksinya ini, mereka lalu kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya.

Sementara sejumlah pemuda pejuang berusaha meyakinkan Soekarno dan Hatta, Wikana sebagai perwakilan golongan muda mengadakan perundingan dengan Achmad Soebardjo, yang akhirnya setuju untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta.

Tawaran Laksamana Muda Maeda untuk menggunakan rumahnya (sekarang gedung museum perumusan teks proklamasi) sebagai tempat rapat PPKI pun diterima oleh para tokoh Indonesia. Disini, rapat untuk menyiapkan teks Proklamasi digelar.

Pagi harinya, atau tepatnya tanggal 17 Agustus 1945, di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56, dengan disaksikan Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Tabrani dan Trimurti, proklamasi dibacakan oleh Soekarno. Dilanjutkan dengan pengibaran bendera Merah Putih, yang telah dijahit oleh Ibu Fatmawati.

Dari sini, ditetapkan pula Soekarno dan Hatta sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia yang pertama.

Sumber : https://www.kelaspintar.id/blog/inspirasi/17-agustus-sebagai-hari-kemerdekaan-ri-ini-sejarahnya-12981/