Seperti Apa Sosok Guru Menyenangkan?

 

Seorang pendidik yang baik, hebat, dan ideal tentu ingin membangun iklim komunikasi yang efektif dengan semua anak didiknya. Dengan adanya komunikasi yang efektif, setidaknya akan memberikan pengaruh positif terhadap aktivitas pembelajaran menjadi menyenangkan. Relasi edukatif yang baik merupakan dasar proses pembelajaran yang menyenangkan, maka setiap guru hendaknya terus belajar dan mempertahankan sikap dan kepribadian positif dalam proses pembelajaran. Dari sikap dan kepribadian positif ini akan terpencar pesona yang menyenangkan. Pertanyaannya, siapakah guru menyenangkan itu? Apa tanda-tandanya? Bagaimana menjadi guru menyenangkan?

Guru menyenangkan adalah guru yang menunjukkan sikap dan perilaku menyenangkan bagi diri dan anak didiknya, baik saat pembelajaran berlangsung maupun di luar pembelajaran. Yang dimaksud menyenangkan disini adalah menyenangkan dalam penampilan, sikap, perilaku, serta pembelajarannya efektif dan efisien. Bagaimana menciptakan suasana yang menyenangkan itu? Guru, di antaranya, dituntut untuk cekatan merespons kebutuhan anak didik.

Menjadi guru yang disukai atau disenangi juga bukan berarti menuruti semua keinginan anak didik, karena jika guru menuruti semua keinginan mereka bisa jadi malah melenceng dari tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Lalu bagaimana cara menjadi guru yang disenangi anak didik ? Drs. Sukadi, guru senior dari Bandung, penulis buku “ Guru Malas Guru Rajin: Ramuan Ajaib untuk Menjadi Guru Menyenangkan” (2010), menguraikan, untuk menjadi guru menyenangkan diperlukan kepribadian dan kompetensi tertentu, diantaranya:

1) Proaktif : Guru proaktif pada dasarnya adalah guru yang mampu mengambil inisiatif, dan disertai tanggung jawab atas setiap keadaan yang dihadapinya. Ia berpikir pada peluang saat menghadapi situasi sulit sekalipun. Ia bertindak dengan nilai-nilai, bukan atas dasar perasaan. Guru proaktif menyenangkan bagi siswa; karena alasan : pertama, guru proaktif tidak mengedepankan perasaan, tetapi mengedepankan nilai-nilai. Kedua, tidak kehilangan kendali dalam menghadapi anak didik. Ketiga, selalu pandai membaca peluang untuk mencapai kebaikan. Keempat, menenangkan anak didik. Artinya anak didik tidak takut diperlakunan tidak adil, karena selalu ada jalan pemecahan setiap persoalan yang anak hadapi. Kelima, meluaskan pengaruh positif ke lingkungan dan tidak terpengaruh oleh lingkungan yang buruk.

2) Cerdas: Orang cerdas pasti pintar. Akan tetapi, orang pintar belum tentu cerdas. Guru cerdas yang memiliki banyak ilmu pengetahuan disertai dengan kemampuan menggunakan ilmu pengetahuannya untuk menolong diri dan lingkungannya. Kecerdasan seorang guru yang dirindukan siswa tentu saja tidak hanya sekedar cerdas intelektual saja, tetapi meliputi berbagai kecerdasan lainnya, seperti kecerdasan sosial, emosional, dan kecerdasan spiritual. Guru yang memiliki multi kecerdasan seperti ini merupakan asset termahal dalam dunia pendidikan.

3) Empati: Empati dapat diartikan bagaimana kita membayangkan pikiran atau perasaan orang lain menurut persepsi orang yang bersangkutan. Guru yang memiliki rasa empati dapat membayangkan dan perasaan anak didik menurut persepsi mereka, bukan menurut persepsi guru. Misalnya, dalam proses pembelajaran, seorang guru empati akan merancang dan melaksanakan program pembelajaran sesuai dengan alam pikiran dan perasaan anak didik, bukan sesuai dengan alam pikiran gurunya. Hal ini juga, tercermin dalam bahasa yang digunakan dan cara memperlakukan anak didiknya.

4) Bijaksana: Seorang guru dikatakan bijaksana apabila dalam menghadapi setiap persoalan senantiasa mempertimbangkan dengan akal sehat, dan mendasarkannya pada ilmu pengetahuan. Guru bijaksana merancang dan melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kemampuan dan keadaan anak didik. Tidak memaksa kehendak pada anak-anak. Tidak berlebihan dalam memberikan tugas, tetapi disesuai dengan kebutuhan dan keperluan anak.

5) Humoris: Anak didik tidak menyukai guru pembelajaran yang monoton. Sebaliknya, guru yang disukai para siswa adalah guru humoris yang pembelajarannya menarik. Dan salah satu cara membuat pelajaran menarik ialah dengan humor. Pembelajaran yang dilakukan tanpa diselingi humor terasa membosankan. Tentu saja humor yang dimaksud adalah humor yang bernilai mendidik, dan terkendali.

6) Bersahabat: Secara psikologis, persahabatan dapat menguak hubungan yang lebih akrab sehingga dapat memahami pribadi masing-masing. Anak didik cenderung kurang menyenangi guru yang terlalu menjaga jarak. Ada sementara guru yang berpandangan bahwa keakraban guru dengan siswa dapat menurunkan wibawa guru. Sebetulnya tidaklah demikian. Wibawa guru tidak akan turun akibat hubungan yang akrab dengan siswa. Namun, kecenderungan karisma guru akan turun apabila guru tidak mampu menunjukkan nilai-nilai positif di hadapan anak didiknya.

7) Bersikap adil: Salah satu hal yang dirindukan anak didik adalah perlakuan adil dari guru. Adil artinya memberikan sesuatu sesuai dengan haknya, tidak berat sebelah dan tidak pilih kasih. Apabila seorang anak melakukan kebaikan, ia mesti mendapatkan imbalan positif, yang lainnya pun harus diperlakukan sama. Begitu pula seorang anak yang melakukan kesalahan diberi sanksi, anak yang lain yang melakukan kesalahan yang sama juga harus diberi sanksi. Apabila guru memberi tugas, ia harus memeriksanya, ini namanya adil.

8) Sederhana: Kesederhanaan seorang guru dapat diimplimentasikan dalam prinsip 3-S, yakni: seperlunya, semestinya, dan sewajarnya. Berpenampilan sederhana berarti berpenampilan seperlunya, semestinya, dan sewajarnya. Begitu pula dalam mengajar. Sederhana harus diterjemahkan sebagai sikap dan perbuatan yang tidak direkayasa atau tidak berlebih-lebihan, tetapi juga tidak asal-asalan. Sederhana bukan berarti “menderita dan berpenampilan lusuh” nya seorang guru seperti kisah lagu Umar Bakrinya Iwan Fals.

9) Penyabar: Dalam menjalankan tugasnya, guru tidak terlepas dari berbagai ujian dan cobaan. Ujian dan cobaan itu dapat berupa sikap anak didik yang kurang menyenangkan (nakal), keadaan anak yang kurang memahami proses pembelajaran (lamban) dan ketidakdisiplinan anak. Untuk mengatasi persoalan itu diperlukan kesabaran seorang guru. Sabar dalam kontek ini bukan berarti menerima apa adanya, lantas berdiam diri. Tetapi sabar dalam konteks menerima ujian sebagai suatu yang menantang dan mendidik untuk lebih maju.

10) Rendah hati dan penyayang: Sikap rendah hati ialah sikap tidak gila hormat, meskipun sebetulnya ia patut dihormati. Orang dengan sikap rendah hati memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berkomunikasi secara bebas dan terbuka. Dengan rendah hati, secara tidak langsung guru memberi kesempatan untuk mengembangkan gagasan, kreativitas, dan kemampuannya kepada anak didik. Begitu juga dengan sikap penyayang seorang guru. Guru penyayang dan mendidik dengan kasih sayang bukan berarti membiarkan siswa-siswinya melakukan apa saja yang mereka inginkan dengan sekehendak hati mereka. Guru penyayang memahami betul perannya, kapan ia harus mendukung anak didiknya, menasihati, memarahi, dan membiarkan suatu perilaku anak didik yang dibimbingnya.

Abdullah Munir, penulis buku “Spiritual Teaching” (2010) menegaskan, mendidik anak berlandaskan cinta dan kasih sayang akan berefek pada bertambahnya kepercayaan masyarakat kepada guru, juga terhadap sekolah.

Pada dasarnya, masih banyak faktor lain yang mendukung untuk menjadi seorang guru yang disenangi anak didiknya. Diantaranya, guru yang kreatif dan inovatif, komunikaitf, tegas, dan mengayomi, serta berdisiplin. Bertindak sebagai guru menyenangkan tidaklah mudah. Karena seorang guru, disamping sebagai pengajar tetapi juga mendidik. Oleh karena itu, idealnya, dalam proses pembelajaran, seorang guru dapat diterima secara menyenangkan oleh anak didik karena ia memiliki kepribadian dan kompetensi profesional yang optimal. Untuk melahirkan guru menyenangkan, kita harus memulai dengan membangun karakter dan kepribadian guru terlebih dahulu. Betapa pun berbagai usaha dikerahkan untuk membangun guru agar dapat tampil menyenangkan, tanpa memperbaiki karakter dan kepribadian, maka pekerjaan itu akan sia-sia. Guru menyenangkan tidak dilahirkan, tetapi dibina dan dibentuk. Wallahu A’lam (SADELY ILYAS,BA, Pemerhati pendidikan dan pensiunan Guru SMA Negeri 2 Tanjungpandan, belitongekspres.co.id ) ,