Kenapa Anak Membutuhkan Pendidikan Emosi

 

Sebagian diantara kita selalu menghubungkan emosi dengan amarah. Padahal emosi tidak hanya melulu berkaitan dengan amarah. Beberapa bentuk emosi bisa jadi berupa rasa sedih, gembira, marah, takut, iba atau haru, kasih sayang, iri hati, dan ingin tahu. Anak-anak diberkati dengan semua bentuk emosi tersebut. Lalu, apakah anak membutuhkan pendidikan emosi?

Pembelajaran sosial emosional adalah proses mengembangkan keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang diperlukan untuk memperoleh kompetensi sosial dan emosional sebagai modal anak dalam berinteraksi dengan dirinya, orang lain dan lingkungan sekitar.

Untuk itu, pendidikan emosi pada anak adalah satu hal yang perlu diberikan. Namun seringkali para orangtua tidak menyadari hal ini dan membiarkan anaknya bertumbuh dan berkembang tanpa adanya pendidikan tersebut. Hal ini oenting diberikan kepada anak agar dapat tumbuh kembang dengan baik di lingkungan sosialnya.

Untuk itu, berikut adalah alasan kenapa anak sangat membutuhkan pendidikan emosi, antara lain adalah:

1. Anak Bisa Belajar Memahami Dirinya Sendiri

Pendidikan emosi pada anak berujung pemahaman mengenai diri sendiri. Jika telah mendapatkan pendidikan tersebut, anak akan mampu memahami kebutuhannya sendiri dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Sebagai contoh, seorang anak yang kecerdasan emosinya sudah baik, dia akan langsung makan ketika dia merasa lapar, dan bukannya marah-marah.

Sebaliknya, jika seorang anak usia dini, misalnya usia anak TK, memiliki kecerdasan emosi dalam tingkat yang rendah, dia biasanya akan ngambek atau rewel ketika merasa lapar. Dia tidak mengetahui apa yang terbaik untuknya saat ini.

2. Anak Bisa Belajar Memahami Orang Lain

Pendidikan emosi pada anak penting untuk diterapkan, apalagi jika sang buah hati Anda telah memiliki adik atau saudara. Pendidikan emosi ini bermanfaat dalam pemahaman anak terhadap orang lain.

Pernahkah Anda melihat seorang kakak yang sangat iri terhadap adiknya, padahal kasih sayang yang tercurah kepada mereka sama adilnya? Nah, hal itu adalah contoh nyata kurangnya pendidikan emosi pada anak. Ketika kecerdasan emosi anak sudah baik, dia bisa memahami perasaan dan kebutuhan orang lain dengan baik.

3. Mengembangkan Kepribadian Baik Anak

Dengan pendidikan emosi pada anak, anak akan belajar mengenai bagaimana mengelola emosinya di jalan yang baik. Beberapa indikator yang bisa terlihat adalah anak bersedia bermain dengan teman-temannya, anak bersedia menolong teman-temannya tanpa pamrih, anak memiliki sikap sportif dalam bermain dengan teman, dan anak tidak cengeng ketika mengalami suatu masalah.

Nah, ternyata pendidikan emosi juga membantu dalam meningkatkan kemampuan sosialisasi anak.

4. Mengembangkan Kedisiplinan Anak

Ketika pendidikan emosi pada anak terlaksana dengan baik, secara tidak langsung Anda juga sedang mengajarkan anak untuk disiplin. Sebagai contoh, Anda bisa mengajarkan anak untuk berhenti bermain pada waktu-waktu tertentu. Nah, di sinilah Anda bisa memulai pendidikan tersebut pada anak.

Tanamkan bahwa dia tidak boleh marah, kecewa, atau sedih, karena aturan tersebut baik untuk dirinya di masa depan. Ketika anak sudah bisa menerima aturan tersebut, Anda telah berhasil mengajarkan 2 hal penting, yaitu pengelolaan emosi dan kedisiplinan.

5. Melatih Kemandirian Anak

Ketika memberikan pendidikan emosi pada anak, Anda bisa menyisipkan latihan kemandirian untuk anak. Sebagai contoh, mintalah anak untuk selalu mengembalikan mainan pada tempatnya dan membuang sampah pada tempatnya. Jika anak mau melakukannya tanpa rasa marah, sedih, atau kecewa, artinya Anda sudah berhasil melatih kemandirian dan emosinya.

Sumber : https://www.kelaspintar.id/blog/parenting/kenapa-anak-membutuhkan-pendidikan-emosi-14775/